Selasa, 27 Juli 2021

Mulai Kapan Isra dan Mi’raj itu Terjadi?
Mulai Kapan Isra dan Mi’raj itu Terjadi?

Mulai Kapan Isra dan Mi’raj itu Terjadi?

BERITAU.IDIsra Mi’raj merupakan peristiwa besar yang dialami Nabi Muhammad SAW. Di mana Nabi Muhammad SAW dalam satu malam melakukan perjalanan suci dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga menuju Sidratul Muntaha.

Isra dan Mi’raj adalah dua peristiwa yang berbeda. Menurut Ustadz Jeje Zainuddin, perjalanan Isra dan Mi’raj terdiri dari dua bagian peristiwa yang penting. Pertama, peristiwa Isra, yaitu perjalanan Nabi di malam hari yang mengagumkan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina yang ditempuh hanya dalam hitungan jam.

“Dinamakan Isra, karena memang perjalanan di waktu malam,” kata dia dalam pesan tertulis, Rabu malam (10/3).

Sedangkan bagian kedua adalah peristiwa Mi’raj. Menurut Jeje, Miraj berarti naik, yaitu naik ke langit tertinggi yang disebut Sidratul Muntaha, puncak pencapaian tertinggi yang tidak ada lagi setelahnya.

Lalu kapan Isra dan Mi’raj itu terjadi? Menurut Jeje, terjadi perselisihan pendapat di kalangan para ilmuwan dan sejarawan Muslim tentang kepastian tanggal dan bulannya. Tetapi mayoritas kaum Muslimin meyakini riwayat yang menerangkan terjadi pada bulan Rajab tanggal 27 dan itulah yang secara luas diakui riwayat paling masyhur.

“Terjadinya peristiwa Isra Mi’raj adalah suatu kepastian yang dialami Nabi dalam perjalanan dakwahnya. Sebagaimana secara jelas dan tegas disebutkan secara eksplisit dalam Quran Surat Al Isra dan An Najmu,” kata Jeje.

Tentu saja, peristiwa satu malam ini menguji keimanan umat Islam kala itu. Jarak Masjidil Haram dengan Masjid Aqsa di Baitul Maqdis adalah sekitar 1.500 Km atau memerlukan perjalanan sekitar 40 hari menggunakan unta.

Sehingga banyak orang Quraish saat itu menganggap perjalanan Isra dan Mi’raj Nabi hanyalah bualan belaka. Namun, tidak dengan Abu Bakar, ia adalah sahabat yang pertama kali menerima dan meyakini cerita Nabi tentang perjalanan suci itu.

Perjalanan Isra Miraj berikutnya, Nabi Muhammad  bertemu para Nabi dan menjadi Imam sholat bagi mereka. Berikut kisahnya diceritakan Al-Habib Ahmad Bin Novel Bin Salim Bin Jindan (Pengasuh Yayasan Al-Hawthah Al-Jindaniyah).

Dalam perjalanan, Rasulullah beberapa kali berjumpa dengan sekelompok hamba-hamba Allah, mereka berkata: “Assalamu’alaika (keselamatan untukmu) wahai Nabi terakhir, Assalamu’alaika (keselamatan untukmu) wahai Nabi yang setelahnya adalah hari kebangkitan.” Maka Jibril berkata kepada Nabi: “Jawablah salam mereka.” Maka Nabi menjawab salam mereka dan bertanya: “Siapa mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan Nabi Isa ‘alaihimussalam.”

Bertemu Nabi Musa
Rasulullah melewati Nabi Musa ‘alaihissalam yang sedang sholat di kuburnya yang terletak di Bukit Pasir Merah (Gunung Nebo). Postur tubuhnya, tinggi badannya, lurus rambutnya, kecoklatan kulitnya, seperti laki-laki dari Suku Syanuah. Dalam sholatnya Nabi Musa berkata dengan suara sangat lantang, “Engkau ya Allah memuliakannya (Nabi Muhammad) dan engkau ya Allah mengutamakannya (Nabi Muhammad).”

Maka Nabi Muhammad mengucapkan salam dan Nabi Musa menjawab salamnya dan berkata: “Siapa ini yang bersama Engkau wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Ini Ahmad.” Maka Musa berkata: “Selamat datang Nabi dari bangsa Arab yang memberikan nasihat kepada umatnya, dan kemudian Nabi Musa mendoakan Nabi Muhammad dengan keberkahan.” Nabi Musa berkata kepada Nabi Muhammad: “Mintalah kepada Allah kemudahan untuk umatmu.”

Kemudian mereka meneruskan perjalanan. Di perjalanan, Nabi Muhammad SAW bertanya kepada Jibril. “Siapa hamba mulia tadi wahai Jibril?” Jibril menjawab, itu saudaramu Nabi Musa bin Imran. Nabi bertanya: “Terhadap siapa dia berani mengangkat suaranya dengan lantang dan tegas?” Jibril menjawab: “Kepada Tuhannya.” Jibril berkata lagi: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memaklumi ketegasannya.”

Bertemu Nabi Ibrahim
Kemudian di perjalanan, Nabi melewati pohon yang sangat besar sekali. Di bawah pohon itu ada seorang lelaki yang sangat berwibawa bersama anak keluarganya dan Nabi melihat lampu dan cahaya-cahaya yang terang. Rasululllah bertanya: “Siapa itu wahai Jibril?”

Jibril menjawab: “Beliau adalah ayahmu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” Kemudian keduanya saling bertukar salam. Lalu Nabi Ibrahim bertanya kepada Jibril: “Siapa ini wahai Jibril?” “Ini adalah putramu Ahmad,” jawab Jibril.

Maka Nabi Ibrahim berkata: “Selamat datang wahai Nabi dari bangsa Arab yang tidak bisa membaca dan menulis, yang menyampaikan risalah Tuhannya, dan memberi nasihat pada umatnya. Wahai anakku sesungguhnya engkau akan bertemu dengan Tuhanmu malam ini. Dan sesungguhnya umatmu adalah umat yang terakhir dan paling lemah jikalau engkau bisa menjadikan seluruh permohonanmu atau sebagian besar permohonanmu kepada Tuhanmu untuk umatmu maka lakukanlah.” Kemudian Nabi Ibrahim mendoakan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan keberkahan.

Singgah di Baitul Maqdis
Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan bersama Jibril hingga sampai di lembah yang berada di Kota Baitul Maqdis. Di saat itu terlihatlah neraka Jahannam yang terbentang seperti permadani. Kemudian Nabi melanjutkan perjalanan bersama Jibril hingga sampai ke Baitul Maqdis dan memasukinya dari pintu kanan.

Kemudian Nabi turun dari Buroq dan dikaitkan di pintu masjid pada kaitan yang sama ketika para Nabi sebelumnya mengaitkan tunggangan mereka. Dalam riwayat lain, bahwa Jibril mendekati batu dan meletakkan jarinya kepada batu itu sampai tembus berlubang dan kemudian Buroq dikaitkan di lubang tersebut.

Jadi Imam Sholat Bagi Para Rasul
Rasulullah SAW memasuki masjid dari pintu yang matahari dan bulan condong ke arahnya. Kemudian Nabi dan Jibril sholat dua rakaat dan tidak mengunggu lama berkumpullah manusia yang sangat banyak. Di antara mereka ada yang sedang sholat berdiri, ada yang rukuk, dan sujud.

Kemudian Adzan dan iqomah dikumandangkan. Mereka berdiri berbaris menunggu siapa yang akan mengimami mereka, lalu Jibril menggandeng tangan Rasulullah dan menuntunnya ke bagian depan. Nabi mendirikan sholat 2 rakaat sebagai imam bersama mereka.

Diriwayatkan dari Ka’ab bahwa Jibril mengumandangkan Adzan dan turunlah Malaikat dari langit dan Allah mengumpulkan seluruh Rasul dan para Nabi. Nabi Muhammad SAW menjadi imam bagi para Rasul, Nabi dan Malaikat. Setelah selesai sholat, Jibril bertanya: “Wahai Muhammad! apakah engkau tahu siapa mereka yang sholat di belakangmu? Nabi menjawab, “Tidak.” Jibril berkata: “Mereka adalah seluruh Nabi dan Rasul yang telah diutus oleh Allah.”

Pujian dari Para Nabi
Diriwayatkan di dalam hadis Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dan disahihkan Imam Al-Baihaqi: ” Nabi Muhammad berjumpa dengan para arwah Nabi dan Rasul, kemudian mereka memuji kepada Allah. Berkata Nabi Ibrahim ‘alaihis salam: “Segala puji bagi Allah yang menjadikanku sebagai Kholil-Nya (sahabat-Nya) dan memberiku kerajaan yang agung dan menjadikanku laksana umat yang kembali kepada Allah dan menjadikanku panutan yang diikuti dan telah menyalamatkanku dari api sehingga menjadikannya bagiku dingin dan penuh kedamaian.”

Nabi Musa ‘alaihissalam memuji kepada Allah. “Segala puji bagi Allah yang telah berfirman kepadaku secara langsung dan menjadikan kehancuran Fir’aun dan keselamatan Bani Israil karena sebab perjuangan tanganku. Dan menjadikan sekelompok dari umatku sebagai petunjuk akan kebenaran dan dengan kebenaran mereka berbuat adil.”

Giliran Nabi Daud ‘Alaihissalam memanjatkan pujian kepada Allah. “Segala puji bagi Allah yang menjadikan untukku kerajaan yang agung dan melunakkan besi dan menundukkan untukku gunung-gunung yang bertasbih dan juga burung, dan memberikanku hikmah dan Fashl Al Khithob.”

Kemudian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam menyampaikan pujiannya kepada Allah. “Segala puji bagi Allah yang menundukkan untukku angin, menundukkan kepadaku setan-setan, mereka bekerja untukku apa yang aku mau dari membangun gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring seperti kolam dan periuk-periuk yang kokoh. Dan mengajariku bahasa burung dan memberikanku segala macam kemuliaan dan menundukkan kepadaku tentara setan dan burung. Memuliakanku dari segala hamba-hamba-Nya yang beriman, dan memberikan kepadaku kerajaan yang agung yang tidak pantas untuk seorangpun setelah aku, dan menjadikan kerajaanku bersih tidak ada hisab dan hukuman.”

Lalu Nabi Isa bin Maryam ‘alaihi salam pun memuji Allah. “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai Kalimat-Nya (kalimat-Nya, Nabi Isa diciptakan Allah dengan kalimat ‘Kun Fa Yakun’) sebagai tanda kebesaran-Nya, dan menjadikan perumpamaanku seperti Nabi Adam, Allah menciptakannya dari tanah dan Allah katakan: “Jadilah, maka terjadi (Kun Fa Yakun).” Dan segala puji bagi Allah yang telah mengajarkanku ilmu Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil, dan menjadikanku penyembuh penyakit buta dari lahir dan penyakit belang. Aku mampu menghidupkan orang mati dengan izin Allah. Allah mengangkatku, menyucikanku, dan melindungi aku dan ibuku dari syaitan yang terkutuk, maka tidak ada celah bagi setan untuk mengganggu kami.”

sumber : dari berbagai sumber

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *